Dies Natalies Membawa Cinta
Matahari mulai menampakkan sinarnya. Ayam-ayam tetangga mulai berkokok. Rumah yang beralamat di Jalan Soekarno-Hatta No.4 Jakarta Pusat, penghuninya mulai melakukan aktivitas. Disha, Ineza Tiania Disha nama lengkapnya mulai bangun dari tidur nyenyaknya. Disha adalah anak terakhir dari dua bersaudara. Mia, Tania Samia Renita nama lengkap kakaknya. Ketika jam mulai berdering,“Oh My God udah jam 6, alamat telat deh gue”, teriak Disha ketika kaget melihat jarum jam.
Tanpa basa-basi dia langsung memakai seragam sekolahnya dan berangkat ke sekolah. Maklum Disha adalah murid baru di SMA Chandra Kirana, Jakarta Pusat. Sebelumnya dia adalah murid dari SMA Tunas Bangsa, Bandung. Karena tugas sang ayah, Disha terpaksa pindah SMA di Jakarta. Hari pertama Disha masuk ke sekolah terfavorit se-Jakarta Pusat itu diawali dengan keterlambatannya untuk datang ke sekolah.
“Pak, bukain kunci pagarnya dong. Saya murid baru di sekolah ini loh pak. Masak saya gak boleh masuk sih?”, mohon Disha ke satpam.
“Aduh non, non ini sudah terlambat jadi bapak tidak berani mengizinkan non untuk masuk”, jawab satpam.
“Ayolah pak, saya kan murid baru, masak iya saya harus terlambat masuk ke kelas di hari pertama saya menjadi murid baru di SMA terfavorit di Jakarta Pusat ini pak?”, mohon Disha lagi.
“Ya sudah, non boleh masuk. Tapi lain kali kalau non melakukan hal yang salah seperti ini lagi, bapak tidak akan mengizinkan non untuk masuk.”, jawab satpam yang agak kesal.
“Alhamdulillah, terima kasih bapak yang cakep, ganteng, dan keren se-sekolah ini. Oh ya, kalau boleh tahu parkiran motor disebelah mana ya pak?”, tanya Disha.
“Kamu lurus aja terus belok ke kiri. Disana parkirannya”, jawab satpam.
“Oke pak terima kasih banyak ya .. muaahh”, jawab Disha sambil berlari mendorong motornya menuju parkiran.
“Baru pertama kali ini loh ada murid yang memuji saya ganteng, haha”, gumam satpam yang terlihat gembira.
Sesampainya di teras kelas Disha terlihat kesal dan kebingungan untuk mencari kelasnya.
“Haduh, kelas gue dimana nih. Udah telat, kelas aja gue kagak tau tempatnya. Nasib-nasib jadi anak baru yang terlambat”, gumam Disha kesal.
Tak lama kemudian ada guru yang lewat. Dan kebetulan sekali guru itu adalah wali kelas Disha.
“Maaf bu, saya mau tanya, kelas XI IPA-3 tempatnya di lantai berapa ya bu?” tanya Disha kesalah seorang guru di SMAnya.
“Kamu murid baru di sekolah ini ya?”, tanya seorang guru.
“Iya bu. Ibu benar”, jawab Disha.
“Kebetulan sekali, saya ini wali kelas kamu. Mari ibu antar ke kelas kamu. Kelas kamu ada di lantai 2 nomor 3 dari barat”, jawab seorang guru.
“Alhamdulillah, terima kasih banyak bu. Sebentar bu, kalau boleh saya tahu nama ibu siapa? Biar saya gampang untuk memanggil nama ibu?”, tanya Disha ke guru tersebut.
“Nama saya ibu Ita”, jawab Bu Ita.
“Oke Ibu Ita, perkenalkan nama saya Ineza Tiania Disha. Ibu bisa memanggil saya Disha”, kata Disha.
“Oh, nama kamu Disha. Ayo Disha kamu udah 15 menit terlambat masuk ke kelas loh”, kata Bu Ita.
“Iyakah bu, Oh My God”, jawab Disha panik.
Sesampainya di sebuah ruang kelas yang bertuliskan XI IPA-3, Bu Ita mengetuk pintu dan masuk bersama Disha.
“Selamat pagi anak-anak”, sapa Bu Ita ke semua murid XI IPA-3.
“Pagi bu”, jawab semua murid XI IPA-3 dengan bersemangat.
“Anak-anak kalian kedatangan teman baru nih, ayo Disha segera perkenalkan diri kamu ke teman-teman barumu”, kata Bu Ita.
“Hai teman-teman. Perkenalkan namaku Ineza Tiania Disha, kalian bisa memanggilku Disha. Aku murid pindahan dari SMA Tunas Bangsa, Bandung”, salam perkenalan Disha kepada teman-teman barunya.
“Hello Disha...”, sapa semua murid XI IPA-3.
“Ayo Disha disana ada bangku yang kosong kamu duduk disana saja”, kata Bu Ita ke Disha.
“Iya, terima kasih bu”, jawab Disha.
“Iya sama-sama”, jawab Bu Ita.
“Hai, kenalin gue Disha. Nama lu siapa?”, tanya Disha ke teman sebangkunya.
“Gue udah tau kali kalau nama lu Disha. Tadi lu kan udah kenalan panjang lebar di depan kelas. Oh ya gue Slavina. Lu bisa panggil gue Slavi. Selamat menjadi siswi baru di kelas ini”, jawab teman baru Disha.
“Terima kasih Slavi”, jawab Disha senang.
3 jam pelajaran pun berlalu. Tak lama kemudian bel tanda istirahat pun berbunyi.
”Yey, waktunya istirahat”, teriak semua murid XI IPA-3.
“Disha ayo ke kantin bareng gue. Ntar sekalian gue nganterin lu muter-muter sekolah ini biar lu tau seisi sekolah ini”, ajak Slavi.
“Wah, makasih ya Slavi, lu emang teman baru gue yang paling baik”, jawab Disha.
“Iya sama-sama”, kata Slavi.
Seusainya Disha dan Slavi dari kantin, mereka langsung menuju ke lapangan basket untuk melihat pertandingan basket antar kelas.
“Slav, disana kok banyak anak-anak sih? Ada acara apa memangnya?”, tanya Disha ke Slavi.
“Oh ya Dis, gue lupa ngasih tau elu. Hari ini tuh ada acara pertandingan basket antar kelas. Soalnya seminggu lagi SMA ini akan ulang tahun atau biasa disebut dengan Dies Natalies”, kata Slavi.
“Oh, gitu Slav. Kalau gitu ayo kita gabung sama anak-anak yang lain disana yuk”, ajak Disha.
“Ayo ..”, jawab Slavi bersemangat.
Ketika Disha dan Slavi menuju ke lapangan basket. Mereka dikagetkan dengan kedatangan Geng Tristan. Geng Tristan adalah geng cowok-cowok yang terkenal keren, macho, dan tajir di SMA Chandra Kirana. Geng ini beranggotakan 5 orang yakni Tasda, Richo, Shaldo, Thico, dan Nando. Geng ini diketuai oleh Tasda. Cowok yang terkenal keren, nggak pernah pacaran selama bersekolah di SMA Chandra Kirana, dan paling gak suka sama cewek yang sok cantik, sok ngatur, dan sok pintar.
“Slav, kenapa anak-anak pada takut sama kedatangan cowok-cowok sok keren itu?”, tanya Disha penasaran.
“Oh Geng Tristan?”, jawab Slavi meyakinkan.
“Ha? Geng Tristan?”, tanya Disha kebingungan.
“Iya, cowok-cowok keren itu adalah Geng Tristan. Mereka berlima terkenal keren, macho, dan tajir di sekolah ini”, jawab Slavi.
“Iyakah?”, tanya Disha yang semakin bingung.
“Eh lu”, sela Tasda (ketua Geng Tristan).
Ketika Tasda memanggil Disha dan Slavi ternyata mereka tidak sadar bahwa Tasda memanggil mereka lalu mereka menengok ke belakang. Slavi yang gugup tidak berani mengeluarkan sepatah kata apapun. Akhirnya Disha pun memberanikan diri untuk menjawab.
“Gue?”, tanya Disha sedikit gugup.
“Ya iyalah elu, siapa lagi coba”, bentak Tasda.
Setelah Disha mendengar ucapan Tasda yang membentak dirinya dan Slavi, akhirnya Disha pun mencoba memberanikan diri untuk berbicara dengan Tasda. Walaupun sebenarnya Disha juga gugup.
“Maaf ya, lu itu siapa? Gue aja gak kenal elu. Sekali lagi gue pertegas ngomongnya gak usah pakek bentak-bentak segala dong”, kata Disha kesal.
“Eh, lu anak baru ya? Lu gak kenal siapa kita-kita, ha? Nih gue kasih tau, kita ini siapa guys?”, kata Tasda ke teman-temannya.
“Kita ini.... Geng Tristan..., ngerti?”, jawab Geng Tristan kompak.
Disha yang semakin sebal karena ulah Geng Tristan akhirnya menarik tangan Slavi dan meninggalkan Geng Tristan untuk menuju ke lapangan basket.
“Eh tunggu”, sahut Tasda sambil memegang tangan Disha.
Slavi yang ketakutan akhirnya berlari meninggalkan Disha sendirian bersama Geng Tristan.
“Slavi tungguin gue”, teriak Disha.
Slavi yang begitu ketakutan tidak menghiraukan teriakan Disha.
“Kenapa? Lu ketakutan sama kita-kita?”, tanya Tasda.
“Lepasin tangan gue! Sakit nih”, kata Disha kesakitan.
“Gue nggak akan lepasin tangan lu sebelum lu minta maaf ke gue dan temen-temen gue”, kata Tasda ngancam.
“What? Minta maaf? Emangnya gue pernah salah apa sama elu?, sentak Disha.
“Elu nggak sadar? Elu adalah murid baru dan murid satu-satunya yang berani ngebentak kita-kita”, jawab Richo (anggota Geng Tristan).
Kesebalan Disha terhadap Geng Tristan pun semakin memuncak. Tangan Disha yang kesakitan akibat dipegang Tasda akhirnya Disha pun mencoba untuk menggigit dengan giginya.
“Awwwwhh....”, teriak Tasda kesakitan.
Lalu Disha pun segera berlari menuju ke kelasnya. Setelah sampai di kelas. Ternyata Slavi sudah menunggu Disha di depan pintu kelas. Ketika Disha sudah sampai di depan kelas dengan nafas yang terengah-engah, Slavi segera menarik tangan Disha dan minta maaf.
“Ya ampun Dis. Maafin gue. Ya Allah, sumpah, gue tuh selama sekolah disini gak berani sama sekali untuk ngehadepin Geng Tristan. Sorry ya, kalau gue tadi ninggalin elu. Tapi gue salut banget sama elu. Elu adalah satu-satunya murid baru yang berani ngelawan Geng Tristan”, kata Slavi ke Disha sambil bertepuk tangan.
“Iya gak papa kok Slav, santai aja kali. By the way, kenapa lu takut banget sama Geng gak jelas itu sih?”, tanya Disha penasaran.
“Gini Dis, kalau anak-anak Geng Tristan sudah gak suka sama anak yang berani sama mereka, meraka akan ngebuli anak yang gak mereka sukai”, jelas Slavi.
“Iya kah?”, tanya Disha dengan wajah yang agak panik.
“Tapi Dis, kalau menurut gue lu itu berani deh ngehadepin mereka. Jadi untuk apa lu takut sama mereka? Mereka sebenarnya juga sama kayak kita. Sama-sama murid di sekolah ini kan?”, kata Slavi meyakinkan Disha.
“Iya ya, elu bener Slav. Oke mulai sekarang gue gak boleh takut lagi sama Geng gak jelas itu”, yakin Disha untuk dirinya sendiri.
Bel tanda usai istirahat pun berdering. Siswa-siswi mulai berlarian untuk menuju kelas masing-masing. Disha yang terlalu capek dan agak ketakutan untuk menghadapi Geng Tristan tidak menghiraukan pelajaran yang diterangkan oleh gurunya sampai bel pulang pun berdering tepat jam 3 sore. Ketika Disha berjalan menuju parkiran, tak disangka-sangka ternyata Geng Tristan sudah berada di depan parkiran terlebih dahulu. Kelihatannya Geng Tristan sudah menunggu Disha disana.
“Aduh, ngapain tuh Geng gak jelas ada di depan parkiran segala sih”, gumam hati Disha.
Disha pun pura-pura tidak tahu dan langsung berjalan cepat ketika akan masuk ke parkiran. Ketika Disha berjalan cepat Disha langsung dihadang oleh Tasda dan teman gengnya.
“Heh, ngapain lu jalannya cepet banget?”, tanya Tasda.
“Ih, ya suka-suka gue dong. Kaki-kaki gue”, jawab Disha judes.
“Ah, pasti lu takut sama kita-kitakan? Ngaku aja deh, nggak usah gengsi”, sahut Nando (anggota Geng Tristan).
“Ih, apaan sih. Minggir gue mau pulang”, bentak Disha dihadapan Geng Tristan.
“Eh, lu anak baru udah berani bentak-bentak kita ya. Untung aja lu cewek, kalau nggak lu udah gue...”, jawab Tasda belum selesai.
Dan Disha langsung memotongnya.
“Udah apa? Udah lu pukul? Ayo kalau berani pukul aja gue”, jawab Disha kesal.
“Ih, ngapain gue pukul-pukul anak cewek. Gue bukan pecundang kali, yang beraninya cuma sama anak cewek. Gak level”, jawab Tasda cetus.
"Trus? Ngapain lu masih ngehadang gue. Minggir sana, gue mau lewat”, kata Disha sambil menyerobot Geng Tristan.
“Tas, lu ngapain diem aja? Kenapa nggak lu beri pelajaran aja sih ke tuh cewek belagu”, kata Thico (anggota Geng Tristan) marah.
“Iya kenapa nggak lu beri pelajaran aja Tas?”, sela Shaldo.
“Udah deh, belum saatnya kita kasih pelajaran ke tuh cewek”, kata Tasda menenangkan.
“Apa jangan-jangan lu suka lagi sama tuh cewek? Siapa tuh namanya? Emm.. Dis... Dis...”, kata Richo bingung.
“Disha keles.. tinggal bilang Disha aja pakek acara gagap segala”, sahut Shaldo.
“Aduh, lu berdua gak usah pada ribut deh. Bikin pusing kepala gue aja. Ya udah ayo masuk ke mobil”, sahut Tasda.
“Tschuss...”, sahut teman-teman Tasda.
“Ih, lu pada letoy amat sih, euh..”, kata Tasda kesal.
15 menit perjalanan akhirnya Disha sampai di rumahnya.
“Sore bun, yah..”, salam Disha sambil mencium tangan kedua orang tuanya.
“Gimana tadi hari pertama kamu di sekolah Dis?”, tanya ayah penasaran.
“Ya begitulah yah”, jawab Disha.
“Kok jawabnya gitu sih nak?”, sahut bunda.
“Di kelas Disha yang baru anak-anaknya pada baik semua ke Disha. Disha aja udah punya temen sebangku yang mau nganterin Disha keliling sekolah. Namanya Slavi bun. Tapi yang Disha herankan ternyata di sekolah favorit juga ada yang namanya geng gak jelas ya bun?”, jawab Disha.
“Alhamdulillah, temen-temen kamu baik semua. Bunda jadi gak khawatir deh. Tunggu dulu.. geng gak jelas? Bunda gak ngerti deh Dis”, jawab bunda bingung.
“Ya gitu deh bun. Ya udah Disha capek banget nih. Disha mau mandi terus istirahat dulu ya”, jawab Disha sambil berlari menuju kamarnya.
Sore pun telah berganti malam. Mia, kakak Disha yang kuliah di Universitas terkenal di Jakarta baru pulang dari kampusnya.
“Dis??”, teriak Mia.
“Ada apa sih Mi, kok teriak-teriak? Adek kamu baru pulang tuh. Keliatanya capek banget. Coba kamu hibur dia deh”, kata bunda.
“Oke bun”, kata Mia sambil berlari menuju kamar Disha.
“Hoy Dis..”, teriak Mia.
“Ih kakak. Bikin kaget Disha aja deh”, kata Disha sebal.
“Nge-mall yuk dek”, rayu Mia ke Disha.
“Kakak nih, gak di Bandung, gak di Jakarta sama aja, hobinya nge-mall mulu”, jawab Disha.
“Ayolah, kita kan belum liat-liat mall di Jakarta dek”, rayu Mia lagi.
“Iya deh kak. Tunggu dulu aku, mau ganti baju”, kata Disha.
“Lhoh-lhoh, anak ayah mau kemana ini? Kok pada dandan rapi dan cantik?”, tanya ayah ke Mia dan Disha.
“Mau ke mall yah. Ini nih, kakak yang ajakin aku”, jawab Disha.
“Gak papa kan yah? Ayolah yah, Mia pingin refreshing bentaran doang?”, rayu Mia ke ayah.
“Ya udah, tapi jangan malam-malam ya pulangnya. Ayah khawatir”, kata ayah.
“Oke deh yah. Beres”, jawab Mia meyakinkan.
Sesampainya di mall Mia dan Disha langsung menuju ke foodcourt untuk makan malam disana. Saat Disha dan Mia melihat menu-menu yang akan dipesannya, tak disengaja Disha menengok ke belakang dan ternyata anak-anak Geng Tristan juga makan di foodcourt yang sama. Ketika Disha memutar tubuhnya, Tasda sebagai ketua Geng Tristasn langsung berdiri dan berjalan mendekati Disha. Disha yang terlalu gugup seakan-akan kakinya tidak dapat digerakkan sama sekali.
“Eh lu, nggak di sekolah, nggak di mall gue selalu ketemu lu ya?”, kata Tasda basa-basi sambil senyum-senyum gak jelas.
Disha yang terlalu gugup sampai tidak mampu menjawab pertanyaan Tasda. Dia pun langsung mengajak Mia untuk segera keluar dari mall itu.
“Kak, ayo pulang sekarang kak. Pokoknya kita harus pulang. Kalau kakak gak mau pulang sekarang, aku yang pulang duluan”, kata Disha marah sambil memegang tangan Mia.
“Loh, kenapa dek? Makanan kita kan.......”, kata Mia kebingungan dan belum selesai.
Ketika Mia belum selesai ngomong, Disha langsung berlari dan menuju ke parkiran. Akhirnya Mia pun membatalkan pesanannya dan langsung mengejar Disha. Tasda yang tak tahu apa-apa juga kebingungan.
“Padahal gue tadi cuma basa-basi dan sedikit becanda loh sama tuh cewek. Tapi kenapa keliatannya dia takut banget sama gue dan langsung ngehindar gitu ya?”, kata Tasda dalam hati.
Seminggu kemudian......
Dies Natalies di SMA Chandra Kirana berlangsung sangat meriah. Pada malam puncak diadakan pemilihan Queen and King Dies Natalies (QKDN). Saat pemilihan dimulai Tasda sangat kaget ketika mengetahui bahwa Disha mengikuti QKDN dan dia pun juga terpesona ketika melihat wajah cantik Disha pada malam itu.
“Oh My God, ternyata dia juga ikutan pemilihan Queen and King Dies Natalies. Tapi tunggu dulu, dia kelihatan cantik banget loh malam ini”, gumam Tasda dalam hati.
“Heh Tas, lu nglamun aja. Ayo cepetan pengumuman Queen and King Dies Natalies bakalan dimulai 3 menit lagi tuh”, kata Shaldo.
Ketika pengumuman berlangsung, hati Disha dan Tasda serta semua peserta QKDN sangat berdebar-debar. Beberapa menit kemudian juri mengumumkan kepada semua peserta bahwa yang menjadi Queen and King Dies Natalies adalah Disha dan Tasda. Disha dan Tasda yang saat itu duduk bersebelahan sontak langsung berdiri dan melompat serta mereka berdua secara tidak sadar langsung berpelukan.
“Sorry..”, kata Disha dan Tasda bebarengan.
Akhirnya mereka berdua berjalan bersama menuju ke atas panggung. Mereka berdua juga mendapatkan mahkota yang sangat bergengsi di SMA Chandra Kirana. Saat Tasda melihat aura serta wajah cantik Disha dia pun tidak dapat menahan perasaannya dan langsung mencurahkan seluruh isi hatinya kepada Disha.
“Dis, lu adalah peri yang selama ini gue tunggu-tunggu. Lu berani ngehadepin gue. Lu juga satu-satunya cewek yang menurut gue sangat bijaksana. Dis, gimana kalau diantara lu dan gue menjadi kita?”, kata Tasda sambil bertekuk lutut dihadapan Disha dan dihadapan semua peserta serta teman-temannya.
“Lu ini ngomong apa sih Tas, gue gak ngerti deh.. “, kata Disha yang kebingungan.
“Iya, lu mau gak jadi pacar gue?”, kata Tasda meyakinkan.
“Emm, ..”, kata Disha yang gugup serta malu sampai wajahnya memerah.
Tak lama kemudian keluarlah sebuah kata yang ditunggu-tunggu oleh Tasda dari mulut Disha yaitu .... jeng-jeng....
“Iya, gue mau kok”, kata Disha sambil meneteskan sedikit air matanya.
Tasda yang kaget mendengarnya, sontak langsung memeluk Disha dan mulai meneteskan air mata kebahagiaan. Teman-temannya serta para peserta pun juga ikut shock dan bertepuk tangan ketika mendengar pernyataan Tasda ke Disha. Akhirnya mereka berdua resmi jadian dan dinobatkan sebagai Queen and King Dies Natalies. Awalnya Richo, Shaldo, Thico, Nando, serta Slavi (sahabat Tasda dan Disha) sempat kaget ketika mendengarkan pernyataan sahabat mereka yang menurut mereka itu konyol banget. Karena selama Tasda dan Disha belum kenal dan berteman mereka berdua selalu bertengkar. Akhirnya semua sahabat Tasda dan Disha merestui hubungan mereka berdua. Selama mereka berdua menjalani masa-masa jadiannya mereka selalu seru-seruan dan sedikit romantis akan tetapi mereka berdua tetap konyol dan bahagia.
THE END
...............................................................................
Tidak ada komentar:
Posting Komentar